Akhir Tahun Pesona Khatulistiwa Nusantara Resmikan PLTU di Bulungan
Briket buatan PKN dibuat dari campuran finecoal (97%) dan tepung singkong (3%) sebagai perekatnya. Finecoal yang tidak memiliki nilai jual mampu diubah menjadi briket dengan kandungan kalori mencapai 3.700 kilo kalori/kilogram. Stok finecoal PKN untuk bahan baku briket mencapai 300 ribu ton. Selain diolah jadi briket, finecoal itu juga menjadi campuran batu bara untuk PLTU milik mereka.
“Dari pada finecoal itu disia-siakan lebih baik kami manfaatkan sehingga memiliki nilai tambah. Harga jual briket jika diserap sektor industri kecil justru jauh lebih tinggi dibanding untuk PLTU,” ungkap Tria.
Harga jual finecoal dengan kandungan kalori 3.700 kilo kalori/kilogram sebesar Rp 800 per kilogram atau sekitar Rp 800.000 per ton. Jika dikonversikan ke dalam mata uang dolar nilainya mencapai US$ 65 per ton. Nilai jualnya, kata Tria, akan semakin tinggi apabila kandungan kalorinya bisa dinaikkan lebiih tinggi hingga 4.200 kilo kalori/kilogram.
“Target kami nanti mau naikkan hingga 4.200 kilo kalori/kilogram. Itu bisa menutup ongkos produksi untuk briket dan tambang batu baranya sekaligus. Saya cukup optimis. Sekarang tinggal kami menciptakan pasar yang masih sepi ini.”
Selain briket batu bara, rencananya pada Januari 2016, PKN mulai memproduksi batu bara upgrading atau batu bara yang sudah mengalami proses pengeringan sehingga kandungan kalorinya lebih tinggi. PKN, kata Tria berkomitmen untuk fokus pada empat lini bisnis mereka: batu bara, briket, upgrading, dan PLTU.
“Jadi bener kata orang, semakin banyak masalah semakin pinter kita untuk mencari solusinya. Kalau semua sudah didepan mata, kita sering kali malas berpikir. Sebelumnya mana pernah saya berpikir bangun PLTU atau briket. Tapi begitu harga jatuh, ya kita harus cari jalan keluarnya.”