Venom Memutus Rantai Segitiga Api Batu Bara

Jakarta - TAMBANG. Sebagai salah satu perusahaan kimia, PT Anugerah Inti Mulia terus mengembangkan teknologi bahan kimia untuk memutuskan rantai segitiga api saat terjadi kebakaran pada tumpukan batu bara.

Manajer Operasi PT Anugerah Inti Mulia, Slamet Tribiantoro, mengatakan teknologi bahan kimia yang diberinama Venom 2000 ini, telah terbukti mampu memusnahkan api saat terjadi kebakaran pada tumpukan batu bara.

Menurut Slamet, pemicu kebakaran pada batu bara ada tiga syarat yakni gesekan, oksidasi dan panas lingkungan. Apalagi batubara mengandung gas metana sehingga akan mudah terbakar. Disinilah peran Venom 2000 yang dapat memutus salah satu rantai api tersebut, sebab ketiga unsur penyebab kebakaran pada batu bara tersebut tidak mungkin dihilangkan.

Slamet menjelaskan, Venom 2000 merupakan campuran bahan kimia yang terdiri dari surfaktan, modified, antioksidan, kemudian cooling agent atau pendingin yang diformulasikan.

“Jadi Venom 2000 sendiri berkerja untuk mengurangi oksigen akibatnya oksidasi yang terjadi dapat dikurangi sehingga dapat memadamkan kebakaran,” ujar Slamet.

Slamet mengklaim, produk yang dikembangkan sejak 2012 ini sangat cocok digunakan pada situasi darurat guna memadamkan kebakaran pada batu bara. Adapun produk Venom 2000 ini berbentuk pil yang berisi 20 liter, karena fungsinya sebagai emergency sehingga mudah untuk dibawa dan diaplikasikan.

"Cara kerjanya sangat mudah, untuk memadamkan api pada batubara yang sudah terbakar, cairan Venom 2000 sebanyak 1% sampai 5% dicampurkan dengan air apapun, setelah dicampur pengguna Venom dapat langsung menggunakannya untuk memadamkan api," terangnya.

Menurut Slamet, Venom 2000 dapat diaplikasikan dengan pola semprot (spray) maupun injeksi (inject) dengan target sasaran temperatur tertinggi pada tumpukan batu bara yang sudah terbakar. Venom 2000, sendiri memiliki batas waktu atau kadaluarsa yakni 1 tahun.

PT Anugerah Inti Mulia, sebelumnya juga telah mengeluarkan produk Envacoal 300 yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kebakaran pada tumpukan batu bara atau dikenal dengan istilah pembakaran spontan atau spontaneous combustion. “Jika Venom 2000 untuk mematikan api pada saat batu bara terbakar, maka Envacoal 300 bertugas untuk mencegah terjadinya kebakaran pada tumpukan batu bara,” ucapnya.

Envacoal 300, merupakan produk yang dikembangkan sejak 2006. Menurut Slamet, Envacoal 300 merupakan formulasi khusus yang mengusung konsep ramah lingkungan. Ramuan Envacoal 300 terdiri dari bahan kimia aman yang tidak mengandung amoniak, non appeo, kitalact dan non formalin, sebab Envacoal 300 ini aplikasinya langsung dilapangan dan berhubungan langsung dengan lingkungan.

“Produk ini merupakan produk yang diformulasikan sendiri dibawah divisi R&D, jadi ini produk lokal. Ada beberapa sertifikat yang sudah kami kantongi, antara lain, sertifikat Toxic dan Damkar,” ungkapnya.

Envacoal 300, lanjut Slamet berfungsi untuk melakukan tindakan preventif atau pencegahan terjadinya kebakaran pada batu bara dengan waktu tahan selama satu bulan. Sehingga, Envacoal 300 dapat menjamin pencegahan terjadinya kebakaran pada saat penumpukan di stockpile maupun pengiriman batu bara.

Envacoal 300 sendiri memiliki berbagai kemasan. Ada yang dikemas dalam drum, ada IBC 100 liter, dan ada juga yang berbentuk bak dalam tanki, dengan batas masa kadaluarsa 6 bulan.

Aplikasi Envacoal 300, ucap Slamet, dapat digunakan dengan cara di semprot sehingga sudah tercoating batu baranya. Rasio 1 liter Envacoal 300 yang dicampur dengan air sebanyak 40 liter air dapat menangani 6 sampai 10 metrik ton batu bara. Namun demikian, lanjut Slamet, itu semua masih tergantung kondisi batu bara dan lapangan.

“Jadi itu tidak dapat dipatokan, karena ini tergantung kualitas kalori batu bara. Biasanya kami lakukan uji coba di lapangan untuk menentukan kebutuhan Envacoal,” jelasnya.

Selama ini produk PT Anugerah Inti Mulia telah dipercaya oleh beberapa perusahaan tambang antara lain, PT Kideco Jaya Agung, PT Hasnur, PT Bayan Resources dan beberapa perusahaan lainnya. Slamet mengaku selama ini pasar utamanya berada di Kalimantan.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda