Timah Targetkan pendapatan 2016 Rp100 miliar.

Jakarta – TAMBANG. PT Timah (persero) Tbk (TINS) menargetkan pendapatan 2016 di atas Rp100 miliar. Untuk memuluskan target tersebut, perseroan mendirikan beberapa anak usaha dibidang property, layanan kesehatan dan agrobisnis. “Untuk produk non timah perseroan melakukan pengembangan dan penelitian tanah jarang,” ujar Direktur terpilih PT Timah, Purwijayanto setelah RUPS di Jakarta kamis (7/4). Untuk pengembangan mmineral ikutan timah, perseroan akan memproduksi RE(OH)3 dan Thorium. Skala laboratoriumnya saat ini sudah selesai dan dalam tahap miniplant yang telah menghasilkan RE(OH)3 sebagai produk intermediate. Nantinya RE(OH)3 ini akan dioleh menjadi Re individual seperti Gadolinium Oksida dan Sammarium Oksida untuk keperluan pengobatan. Re lainnya juga akan digunakan untuk produk berteknologi tinggi berupa residu Thorium untuk keperluan Radiofarmaka untuk keperluan pengobatan dan bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Saat ini perseroan sudah menggelontorkan dana sebesar Rp100 miliar untuk membangun pabrik tanah jarang di Kawasan Industri Tanjung Ular, Bangka Belitung. Luas tanah yang akan digarap perusahaan pelat merah itu mencakup area seluas 110 hektar. “Investasi dari roundup akan dinaikkan jadi 100 ton per tahun setelah PLTB jelas,” imbuh Purwijayanto lagi. Purwijayanto yakin, investasi perseroan ini akan berhasil. Mengingat harganya yang cukup tinggi dan potensi penggunaannya untuk pembangkit listrik.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda