Tahun Depan Pemerintah Fokus ke Bioetanol dan Bioavtur

Biodiesel Swasembada
Jakarta-TAMBANG. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) akan mengalihkan fokus pekerjaan mereka pada 2016 ke pengembangan bioetanol dan bioavtur. Dirjen EBTKE, Rida Mulyana mengatakan rencana itu sudah menjadi prioritas setelah pengembangan bioetanol dianggap kurang berhasil.   Dari hasil evaluasi yang ia lakukan, bioetanol dianggap kurang berhasil karena harga yang masih belum mencapai nilai keekonomian. Biaya produksi bioetanol jauh lebih tinggi dibandingkan harga jualnya. Selain itu, Pertamina sebagai off taker bahan bakar nabati (BBN), lebih memilih untuk mengimpor bioetanol karena dianggap lebih murah.   “Bahan bakunya (singkong) juga diimpor karena harganya lebih murah dibandingkan singkong dari petani lokal. Ini yang membuat bioetanol semakin tertekan. Saya belum bisa bicara banyak. Tapi tahun depan, itu akan jadi target kerja kami,” ujar Rida di kantor pusat Ditjen EBTKE, Jumat (27/11).   Selain bioetanol, pemerintah juga akan mengembangkan bioavtur untuk bahan bakar pesawat. Ujicoba bioavtur sudah terbukti berhasil dan hasilnya, kandungan energi yang ada di dalam bioavtur dengan avtur hampir sama. Bahan baku yang dipakai bioavtur adalah Crude Palm Oil (CPO) sama halnya dengan bahan baku biodiesel.   Menurut Rida, melihat keberhasilan program biodiesel (B-15) tahun ini, pemerintah optimis pengembangan bioavtur tidak akan mengalami hambatan yang sulit seperti bioetanol. Tahun ini  pemerintah berhasil menerapkan kebijakan mandatori BBN dengan mencampurkan BBN dari sawit dengan BBM jenis Solar sebanyak 15%. Karena keberhasilan itu, rencananya, pemerintah akan menaikkan kadar BBN pada tahun depan menjadi 20% (B-20).   Sebelumnya, Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang mengatakan seandainya pada tahun depan pemerintah menaikkan penerapan mandatori BBN menjadi 20% (B-20), proyeksi kebutuhan bahan baku BBN (Fame) yang bisa diserap Pertamina bertambah jadi 5,14 juta KL atau setara dengan 26 juta KL biosolar. Jika keputusan itu diberlakukan, Pertamina, kata Bambang, siap meningkatkan permintaan pasokan Fame.   “Untuk saat ini yang terpenting volumenya tercapai dulu. Sampai April nanti baru 15%, kalau pemerintah suruh naik ya kami akan naikkan,” ujar Bambang.

Artikel Terkait

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

Jakarta, TAMBANG – Besarnya potensi silika Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemanfaatannya. Kepastian harga, klasifikasi komoditas, spesifikasi ekspor, hingga persoalan perizinan masih menjadi tantangan dalam mendorong pengembangan industri silika dari hulu hingga hilir. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dialog Silika Indonesia: Harga Patokan Mineral Silika

By Rian Wahyuddin
PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

Jakarta,TAMBANG,- Pengembangan biomethane yang memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan kini mulai mendekati tahap akhir pengembangan. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) berkolaborasi Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk mengoptimasi pemanfaatan biomethane tersebut dalam rangka memastikan kesediaan pasokan energi domestik masa

By Egenius Soda
PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan tambang batubara plat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mempersiapkan operasional yang andal dalam menjaga keberlanjutan produksi. Perencanaan tersebut mempertimbangkan persetujuan pemerintah, prioritas kebutuhan domestik, serta dinamika pasar ekspor di tengah transisi energi. Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan perusahaan tetap berada pada jalur yang tepat

By Egenius Soda