Surpres Sudah Turun, RUU EBT Ditargetkan Rampung Sebelum Puncak G20

Surpres Sudah Turun, RUU EBT Ditargetkan Rampung Sebelum Puncak G20

Jakarta, TAMBANG – Progres Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Terbarukan (EBT) saat ini telah selesai diharmonisasi dan sudah mendapat Surat Presiden (Surpres) beberapa hari lalu. Hal itu disampaikan Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto usai pembukaan IPA Convex di JCC, Jakarta, kemarin (21/9).

“Draftnya sudah diparipurnakan karena sudah diharmonisasi pada bulan Juni lalu. Surpresnya sudah keluar tiga hari lalu, minus Daftar Inventarisasi Masalah (DIM), apa artinya? Hanya menunjuk kementerian lembaga yang membahas, ” kata Sugeng.

Padahal Komisi VII, imbuh Sugeng, menargetkan RUU ini rampung sebelum puncak G20 digelar pada 16-17 November 2022.

“Target Komisi VII adalah sebelum G20 Summit jadi undang-undang, kapan itu, 16 November,” imbuh Sugeng.

Menurut dia, DIM seharusnya keluar bersamaan dengan Surpres, mengingat DPR dan Pemerintah nanti bakal membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk membahas DIM sebelum RUU ini disahkan menjadi undang-undang.

“Karena setelah Surpres itu keluar, kami bersama pemerintah akan membentuk panja dengan dim dari pemerintah dan draft dari Komisi VII DPR itu kita persandingkan. Itulah yang kita bahas dan insyaallah menjadi UU EBT,” beber Sugeng.

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto usai Pembukaan IPA Convex 2022, di JCC, Jakarta

Terkait DIM yang belum keluar, Sugeng mengatakan bahwa hal tersebut mungkin karena adanya tarik-menarik dengan program lain. “Kenapa dimnya belum keluar ternyata lagi tarik-menarik dengan power wheeling,” imbuhnya.

Politisi Partai Nasdem ini pun membeberkan alasan kenapa RUU ini harus selesai sebelum puncak presidensi G20. Kata dia, Pemerintah akan dipandang serius oleh anggota G20 lantaran sudah memiliki UU EBT sesuai dengan tema utama acara Presidensi G20.

“Langkah hebatnya Indonesia ketika G20 Summit dengan temanya transisi energi maka kita sudah punya UU EBT. Tapi sekali lagi tergantung pemerintah,” jelasnya.

Artikel Terkait

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

Jakarta, TAMBANG – Besarnya potensi silika Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemanfaatannya. Kepastian harga, klasifikasi komoditas, spesifikasi ekspor, hingga persoalan perizinan masih menjadi tantangan dalam mendorong pengembangan industri silika dari hulu hingga hilir. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dialog Silika Indonesia: Harga Patokan Mineral Silika

By Rian Wahyuddin
PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

Jakarta,TAMBANG,- Pengembangan biomethane yang memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan kini mulai mendekati tahap akhir pengembangan. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) berkolaborasi Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk mengoptimasi pemanfaatan biomethane tersebut dalam rangka memastikan kesediaan pasokan energi domestik masa

By Egenius Soda
PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan tambang batubara plat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mempersiapkan operasional yang andal dalam menjaga keberlanjutan produksi. Perencanaan tersebut mempertimbangkan persetujuan pemerintah, prioritas kebutuhan domestik, serta dinamika pasar ekspor di tengah transisi energi. Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan perusahaan tetap berada pada jalur yang tepat

By Egenius Soda