PLTPB Gunung Slamet, Energi Terbarukan untuk Warisan Anak Cucu

PLTPB Gunung Slamet, Energi Terbarukan untuk Warisan Anak Cucu
Menara Persiapan Pengeboran Sumur Perdana di Wellpad H PLTPB Gunung Slamet
Jakarta, TAMBANG – Direktur Panas Bumi , Ditjen Energi Bartu Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, menegaskan, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) adalah energi terbarukan yang sangat dibutuhkan sebagai warisan untuk anak cucu di masa mendatang.   Yunus Saefulhak menjelaskan, energi panas bumi merupakan energi yang bersih dan ramah lingkungan, dimana emisi CO2 yang dihasilkan dari PLTP hanya 1,5 persen dari PLTU dan 2,7 persen dari PLTG. Energi panas bumi ini menurutnya, tidak dapat diekspor dan hanya dapat dimanfaatkan di lokasi dimana energi panas bumi berada.   “Maka pengembangannya perlu didukung oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan kemandirian energi,” kata Yunus Saefulhak.   Karena itu, pemerintah menyakini bahwa pengembangan panas bumi seperti proyek PLTP Baturaden ini akan memberikan multiflier effect bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat di sekitar area pembangunan. Manfaatnya yaitu, peningkatan penerimaan daerah melalui mekanisme Bonus Produksi dan Dana Bagi Hasil dari pengusahaan Panas Bumi.   Kemudian,  peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat, melalui program pemberdayaan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja lokal, sektor usaha mikro tumbuh dan manfaat lainnya.   Proyek PLTPB Gunung Slamet ini, termasuk dalam proyek strategis nasional dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional. Sesuai dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, serta Perpres Nomor 4 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infastruktur Ketenagalistrikan.   Total investasi yang dibutuhkan dalam pengembangam PLTP Batutaden ini sebesar USD 900 juta, dimana untuk tahap eksplorasi membutuhkan dana sekitar USD 75 juta. Rencana kapasitas pengembangan PLTP Baturaden ini sebesar 220 MW dan ditargetkan Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2022 dan 2024.  

Artikel Terkait

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

Jakarta, TAMBANG – Besarnya potensi silika Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemanfaatannya. Kepastian harga, klasifikasi komoditas, spesifikasi ekspor, hingga persoalan perizinan masih menjadi tantangan dalam mendorong pengembangan industri silika dari hulu hingga hilir. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dialog Silika Indonesia: Harga Patokan Mineral Silika

By Rian Wahyuddin
PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

Jakarta,TAMBANG,- Pengembangan biomethane yang memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan kini mulai mendekati tahap akhir pengembangan. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) berkolaborasi Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk mengoptimasi pemanfaatan biomethane tersebut dalam rangka memastikan kesediaan pasokan energi domestik masa

By Egenius Soda
PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan tambang batubara plat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mempersiapkan operasional yang andal dalam menjaga keberlanjutan produksi. Perencanaan tersebut mempertimbangkan persetujuan pemerintah, prioritas kebutuhan domestik, serta dinamika pasar ekspor di tengah transisi energi. Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan perusahaan tetap berada pada jalur yang tepat

By Egenius Soda