Petani Rumput Laut Indonesia Gugat Perusahaan Minyak Australia

Petani Rumput Laut Indonesia Gugat Perusahaan Minyak Australia
TAMBANG, JAKARTA. LEBIH dari 13.000 petani rumput laut Indonesia meluncurkan gugatan senilai US$ 200 juta terhadap perusahaan yang diklaim telah mencemari lautan dengan bocoran minyak hasil pemboran. Jutaan liter minyak disebut telah mengalir dari ladang minyak, terbawa hingga ke pantai, dan mematikan rumput laut yang mereka pelihara.     Koran The Guardian pagi ini memberitakan, gugatan itu diajukan melalui Pengadilan Federal Sidney, Rabu pagi ini, setelah selama tujuh tahun para petani itu berupaya keras mendapatkan keadilan atas musibah yang mereka alami pada tahun 2009, setelah bocornya sumur minyak Montara.   Ben Slade, mitra senior pada kantor pengacara Maurice Blackburn, Canberra, mengatakan operator rig Montara, yang menyebabkan kebocoran itu, harus bertanggungjawab atas musibah yang mereka timbulkan.   ‘’Rig inilah yang jadi biang masalah kebocoran, sehingga mengancam lingkungan, serta kehidupan ribuan petani. Operator rig harus bertanggungjawab,’’ kata Ben Slade.   Para penggugat itu berasal dari Timor Barat dan Pulau Rote. Mereka selama ini mengandalkan hidupnya dari rumput laut, yang dibiakkan di laut untuk keperluan kosmetik, makanan, dan industri lain. Produksi mereka anjlok setelah terkena pencemaran minyak selama 74 hari.   Penggugat utama, Daniel Sanda, 58 tahun, pada September 2009 mengatakan, banyak minyak yang bocor, serta ikan yang mati di sekitar Oenggaut, sebuah desa di Pulau Rote, yang terkena dampak kebocoran minyak. Ribuan petani menjadi korban.   PTTEP Australia, pemilik ladang minyak yang bocor itu, memiliki studi sendiri. PTTEP tidak menemukan adanya bocoran minyak yang sampai hingga perairan Indonesia.   PTTEP sendiri sudah dihukum bersalah oleh Pengadilan Darwin, pada 2009, dengan vonis ganti rugi sebesar $510.000.   Kebocoran minyak itu berawal dari kebakaran pada 21 Agustus 2009, yang membuat rig West Atlas, terletak 250 kilometer dari pantai Australia, terbakar. Diperkirakan terdapat 300.000 liter minyak yang bocor, dan mencemari perairan.   Menghadapi gugatan para petani rumput laut, Juru Bicara PTTEP Australasia menjawab, pihaknya menghormati adanya aksi mereka. ‘’Meski demikian, kami berpendapat, gugatan oleh petani rumput laut itu salah,’’ katanya.   PTTEP berargumen pada data citra satelit, survei udara, serta model aliran minyak yang didapat dari komputer, tampak bahwa 98% minyak yang bocor masih berada di perairan Australia.   ‘’Kami percaya pada studi independen ini,’’ kata si juru bicara. Foto : ilustrasi foto petani rumput laut. Sumber: beritadaerah.co.id

Artikel Terkait

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Jakarta, TAMBANG - PT Prima Wiguna Parama (Parama Energi) meyakini bahwa investasi terbaik bagi masa depan industri energi dan pertambangan tidak hanya dibangun melalui mesin dan infrastruktur, tetapi juga melalui pendidikan tinggi untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Semangat inilah yang mendorong Parama Energi memperkuat akses pendidikan serta pengembangan kapasitas

By Rian Wahyuddin
Ceria Corp Kibarkan Merah Putih di Puncak Mekongga, Rayakan Kemerdekaan dari Ketinggian 2.620 Mdpl

Ceria Corp Kibarkan Merah Putih di Puncak Mekongga, Rayakan Kemerdekaan dari Ketinggian 2.620 Mdpl

Jakarta, TAMBANG - Setelah menempuh perjalanan panjang melalui medan pegunungan yang menantang, rombongan Ceria Corp akhirnya menjejakkan kaki di Puncak Gunung Mekongga. Tepat pada 17 Agustus 2026, Merah Putih berkibar di ketinggian 2.620 meter di atas permukaan laut (MDPL), menjadi penanda keberhasilan Ekspedisi Gunung Mekongga sekaligus menghadirkan makna tersendiri dalam

By Rian Wahyuddin