Pengusaha Sawit Minta Subsidi

Pengusaha Sawit Minta Subsidi

JAKARTA—TAMBANG. RENCANA Pemerintah Indonesia untuk memberikan tambahan subsidi bagi pemakaian bahan bakar nabati, mendapat penghargaan dari para pengusaha minyak kelapa sawit di Malaysia. Mereka mendesak Pemerintah Malaysia melakukan hal serupa.

Koran Malaysia Insiders kemarin memberitakan, para produsen biodiesel akan mencari insentif baru dari pemerintahnya, setelah hal serupa diterapkan Pemerintah Indonesia. Berita mengenai rencana Pemerintah Indonesia memberi subsidi bagi produsen biodiesel telah mendongkrak bursa saham Kuala Lumpur sebanyak 9%, pekan lalu.

Perwakilan industri biodiesel akan bertemu dengan para pengusaha perkebunan serta Menteri Komoditi Douglas Unggah Embas, di Putrajaya, rencananya hari ini. Mereka ingin mendiskusikan apa yang bisa dilakukan Pemerintah Malaysia untuk menolong industri biodiesel yang tengah kerepotan.

Volume biodiesel yang disubsidi telah mencapai 1,7 juta kiloliter, dari 3,41 juta kiloliter yang direncanakan. Dengan adanya tambahan subsidi, diharapkan volumen pemakaian biodiesel di Malaysia bisa bertambah 0,9 juta ton, tahun ini, dan bertambah lagi 1,6 juta ton pada 2016.

Permintaan terhadap biodiesel menurun drastis setelah harga minyak mentah dunia anjlok dari puncaknya pada Juni lalu, hingga turun lebih dari 50%, Februari ini. Laba produsen biodiesel merosot drastis.

‘’Kami tampaknya tidak akan mendapat keringanan seperti halnya yang diberikan Pemerintah Indonesia, karena Pemerintah Malaysia tidak mau memberi subsidi,’’ kata seorang pengusaha sawit di Malaysia.

‘’Kami akan menuntut diberikan insentif pajak. Ini akan sangat membantu,’’ katanya.

Pemerintah Indonesia memang menambah subsidi terhadap pemakaian bahan bakar nabati. Di APBN Perubahan 2015, subsidi untuk biodiesel ditambah, dari Rp 1.500 per liter menjadi Rp 5.000. Sedang untuk bioetanol, dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000.

Menurut Menteri ESDM Sudirman Said, sewaktu pembahasan mengenai program kerja kementeriannya di DPR, 2 Februari lalu, pemberian subsidi ini diperlukan agar perbedaan harga antara minyak nabati dengan BBM menyempit, lantaran harga minyak internasional tengah turun.

Saat ini pemerintah mematok target biofuel mengadung bahan bakar nabati 10%. Ini akan dinaikkan menjadi 20%.

Foto: Tanaman sawit di Malaysia. Sumber: mypalmoil.wordpress.com

Artikel Terkait

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

PROMETINDO Didorong Jadi Motor Transformasi Industri Metalurgi Nasional

Jakarta, TAMBANG – Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal transformasi industri mineral Indonesia, khususnya di tengah agenda hilirisasi dan industrialisasi. Organisasi profesi ini didorong tidak hanya memperkuat kompetensi ahli metalurgi, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan industri ke depan. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara

By Rian Wahyuddin
Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Dirjen Minerba Tri Winarno Dorong PROMETINDO Perkuat Teknologi Metalurgi dan Akselerasi Hilirisasi

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno mendorong Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi metalurgi dan mendukung agenda hilirisasi mineral di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Winarno dalam Kongres Nasional PROMETINDO 2026 yang digelar

By Rian Wahyuddin