00

days


00

hours


00

minutes


00

seconds


Pemerintah Indonesia telah lama menginginkan nilai tambah domestik yang tinggi melalui hilirisasi produk pertambangan nikel. Saat ini, nikel menjadi komponen dominan dalam baterai listrik, yang semakin penting dengan munculnya beragam perangkat digital hingga mobil listrik yang memerlukan piranti penyimpanan energi. Selain itu, baterai listrik juga menjadi elemen krusial untuk mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan.

Sebagai produsen dan pemilik cadangan bijih nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran penting dalam perdagangan nikel. Indonesia memproduksi sekitar 30% dari total nikel dunia. Untuk memanfaatkan keuntungan ini, Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendorong hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, mulai dari menggenjot pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian, hingga menerapkan kebijakan larangan ekspor nikel mentah.

Dari aspek teknis, hilirisasi nikel memerlukan dukungan teknologi yang memadai. Setidaknya ada dua jenis teknologi arus utama yang berkembang di Indonesia, yaitu (RKEF) dan rotary kiln electric furnace high pressure acid leaching (HPAL). Adapun teknologi lainnya yang kini sedang dikembangkan yaitu (STAL) step temperature acid leaching.

Sejak larangan ekpor digulirkan pada tahun 2020 lalu, Pemerintah menilai telah terjadi peningkatan investasi di industri logam dasar berbasis nikel. Namun demikian, penerapan larangan ekspor masih menemui sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya, terutama soal tata niaga domestik.

Investasi yang memprioritaskan aspek-aspek environment, social, and governance (ESG) kini tengah menjadi tren. Bahkan, animonya terus meningkat di pasar modal, baik di dalam negeri maupun secara global. Tingkat ESG di Indonesia masih menjadi catatan, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya khusus untuk memperbaikinya.

Atas dasar pemikiran tersebut, Majalah TAMBANG akan menyelenggarakan Indonesia Nickel Summit 2022 dengan tema Kegiatan ini Nickel for Better Future. akan menghadirkan berbagai stakeholder, mulai dari kalangan pemerintahan, praktisi, pelaku usaha, investor, hingga akademisi. Kegiatan ini juga diselenggarakan untuk menyambut serta menyukseskan tuan rumah event G20, yaitu forum internasional yang fokus pada koordinasi kebijakan ekonomi dan pembangunan dengan tema ‘RecoverTogether, Recover Stronger’.

//   Branding Opportunities

Agenda

Conference

  • Luhut B Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI* 
  • Eddy Soeparno, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI
  • Irwandy Arif, Staf Khusus Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM
  • Heldy Satrya Putera, Staf Ahli Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal Kementria Investasi/BKPM
  • Sugeng Mujiyanto, Direktur Pembinaan dan pengusaan Mineral dan Batubara Ditjen Minerba KESDM
  • Nanan Soekarna, Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia
  • Evvy Kartini, National Battery Research Institute
  • Mohammad Zaki Mubarok, Guru Besar Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung
  • Adriansyah Chaniago, Vice President Director PT Vale Indonesia, Tbk
  • Nico Kanter, Direktur Utama PT Antam Tbk*
  • Toto Nugroho, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia
  • Tony Gultom, Direktur Harita Group
  • Agung Dewa Chandra, Presiden Direktur PT Gebe Nickel Industry
  • Herry Asiku, Komisaris PT Sinar Jaya Sultra Utama
  • Muhammad Ishaq, Direktur PT Ifishdeco Tbk
  • Syar Reza, Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubircants Indonesia
  • Joseph Hong, CEO Silkroad Nickel
  • Herry Yudianto, Chief Marketing Officer PT Sany Perkasa
  • Teguh Sapto Subroto, Direktur PT Purtra Perkasa Abadi
  • Levi Lin, Presiden Direktur PT LiuGong Marchinery Indonesia