Menteri ESDM Dorong PLTS untuk Listriki Pulau-Pulau Terpencil

Menteri ESDM Dorong PLTS untuk Listriki Pulau-Pulau Terpencil
sumber: esdm.go.id

Jakarta, TAMBANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahdalia mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mempercepat elektrifikasi di pulau-pulau terpencil. Upaya ini bagian dari program strategis pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan energi serta memperluas akses pelayanan energi hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Kementerian ESDM menargetkan agar sampai tahun 2029 seluruh desa dan dusun di Indonesia telah berlistrik. Salah satu langkah konkret untuk mewujudkan target tersebut adalah mendorong pemasangan PLTS di kampung-kampung yang berada di pulau-pulau jauh, di mana pasokan bahan bakar dan logistik kerap menjadi kendala.

“Saya kebetulan lahirnya itu di Pulau Banda, Maluku. Itu 80 persen wilayahnya itu laut. Sudah nggak ada minyak tanah, kapal susah pula. Jadi saya tahu betul penderitaan itu, dan kita akan mendorong program PLTS. Jadi anggaran yang kami dapat, kami akan dorong program PLTS agar daerah-daerah, kampung-kampung, atau pulau-pulau yang susah kita datangi kalau ombak itu pakai plts,” ujar Bahlil di Jakarta, dikutip dalam keterangan resmi, Selasa (27/1).

Dorongan untuk PLTS ini sejalan dengan target bauran energi Kementerian ESDM pada tahun anggaran 2026, yang berupaya meningkatkan kontribusi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi 17-21 persen. Pada 2025, bauran listrik dari EBT tercatat sebesar 15,75 persen, sehingga langkah percepatan PLTS diharapkan dapat mempercepat pencapaian target tersebut.

Program ini juga melengkapi program Listrik Desa yang pada 2026 menargetkan penambahan 22.179 pelanggan di 372 lokasi di seluruh Indonesia. Sebagai perbandingan, pada 2025 terdapat 77.616 rumah tangga di 1.516 lokasi yang telah mendapatkan pasokan listrik melalui program Listrik Desa. Selain itu, pemerintah menjalankan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang menargetkan 500 ribu rumah tangga di tahun 2026; pada 2025 program ini tercatat telah mencapai 205.968 rumah tangga.

Sebelumnya, target program BPBL tahun 2026 direncanakan diberikan untuk 250 ribu rumah tangga, pada Raker ini Bahlil menambah target BPBL menjadi 500 ribu pelanggan. Supaya target tersebut tercapai dan tepat sasaran, Bahlil meminta dukungan para anggota Komisi XII DPR RI.

“2026 (target program BPBL) 200 apa 300 ribu, naikkan menjadi 500 ribu karena ini atas permintaan dari para teman-teman Komisi XII. Nanti kita minta teman-teman Komisi XII juga untuk membantu kami agar program-program itu mencapai sasaran,” ujar Bahlil.

Target ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan untuk menambah sebaran penerima program kelistrikan. Bahlil juga akan merevisi alokasi anggaran kegiatan tahun 2026 agar fokus pada pemerataan akses listrik di daerah 3T.

Dengan kombinasi program PLTS, Listrik Desa, dan BPBL, pemerintah berharap pemerataan akses listrik bisa semakin merata, khususnya di pulau-pulau terpencil yang selama ini menghadapi tantangan logistik dan ketersediaan energi.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda