Kuartal Pertama Industri Baja Masih Melempem

Kuartal Pertama Industri Baja Masih Melempem

Jakarta – TAMBANG. Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) memproyeksikan industri baja nasional akan tetap melempem pada kuartal II tahun ini, seperti halnya akhir tahun lalu. Kuartal satu biasanya memang tidak pernah sama dengan kuartal dua karena ada pelemahan permintaan dari akhir tahun sedangkan pada kuartal dua naik hingga kuartal tiga, kemudian turun lagi di akhir tahun

Sepanjang kuartal pertama, industri baja hulu jatuh sekitar 50% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Ketua Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Irvan Kamal Hakim menjelaskan, selain penurunan harga baja global selama tiga tahun belakangan serta nilai tukar rupiah yang anjlok, tantangan lain di tahun ini adalah masa Ramadan dan lebaran pada kuartal kedua.

“Tren kurva tersebut tidak akan berlaku tahun ini dengan adanya bulan puasa dan Lebaran di tengah tahun yang mengakibatkan turunnya permintaan,” jelas Irvan, seperti yang dikutip Bisnis.com, Selasa (5/5).

Terkait dengan paket proyek infrastruktur yang digalakkan pemerintah, Irvan beranggapan tidak akan membantu industri baja secara signifikan.

“Proyek infrastruktur juga belum jalan. Sekarang sudah Mei. Dengan proses tender, pengadaan dan sebagainya, serapan tahun ini jadi berapa angkanya?” kata Irvan.

Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi memerlukan sekitar Rp6.000 triliun. Sementara itu, sektor yang dicakup pemerintah hanya berkisar Rp1.600 triliun dan sisanya sebesar Rp4.400 triliun harus mengandalkan sektor privat, yang berhadapan dengan tantangan tersendiri.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda