Kebijakan Energi Nasional Perlu Reorientasi

Jakarta – TAMBANG. Arah kebijakan politik tentang energi nasional memerlukan kajian dalam kerangka re-orientasi. Kebijakan pengelolaan energi nasional harusnya bertumpu pada tiga pilihan tujuan yaitu ketahanan, kemandirian dan kedaulatan.   “Dalam proses implementasi untuk mencapai tujuan kebijakan energi nasional perlu dikombinasikan dengan dinamika kondisi energi global yang akan berdampak pada penyesuaian dan perubahan orientasi atas kebijakan yang ada, sehingga dapat terkendali dampaknya pada ketahanan energi nasional secara jangka panjang,” papar Sampe. L Purba di sela-sela Focus Group Discussion tentang Reorientasi Paradigma Politik Kebijakan Energi Nasional di Jakarta (23/2).   Dia mengatakan, fenomena tingginya konsumsi dalam negeri dan ketergantungan terhadap  sumber energi fosil juga terkait dengan harga minyak dunia serta konstelasi geopolitik yang terjadi sehingga membuat Indonesia harus melakukan reorientasi terhadap kebijakan energi yang ada. Sampe menjelaskan, hal yang harus diperhatikan saat ini adalah mengenai penemuan cadangan energi baru, langkah antisipasi turunnya harga minyak dunia yang sudah di bawah US$ 30 per barel, ketidakseimbangan produksi, pengolahan dan konsumsi, serta margin pengelolaan kilang yang rendah sehingga mengharuskan adanya penyesuaian dalam tataran  kebijakan dan implementasi. “Kebijakan energi harus tepat sasaran pada prioritas, konsistensi alokasi & relokasi sumberdaya juga diperlukan agar ketahanan energi nasional bisa tercapai. Dengan kondisi saat ini, baik industri migas dan jasa penunjang migas serta industri energi lainnya perlu mendapatkan dukungan” kata Sampe.   Ketahanan energi dikatakan arti penting,satu faktor utama dalam perekonomian negara dalam memproduksi barang dan jasa, apabila energi tidak tercukupi maka tingkat produktivitas ekonomi suatu wilayah akan menurun. Jika hal ini terus berlanjut sampai ke tingkat nasional maka target pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meleset dari yang ditetapkan. “Kalau energinya tidak mencukupi, bagaimana perekonomian bisa tumbuh,” ungkap anggota Ikatan Keluarga Alumi Lemhannas RI XLIX (IKAL 49). Sementara itu, Rektor Universitas Darma Persada, Dadang Solihin memaparkan bahwa pengembangan energi alternatif dan terbarukan merupakan bagian terintegrasi dalam konteks energi nasional. Menurutnya, untuk mencapai pengembangan energi alternatif terbarukan diperlukan kebijakan yang bersifat diversity dengan melibatkan perguruan tinggi dan industri yang didukung oleh adanya insentif  dan alokasi anggaran. “Kita harapkan agar pemerintah dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan energi selalu berorientasi pada ketahanan menuju kemandirian dan kedaulantan energi nasional yang berkesinambungan” pungkas Dadang. Selain Rektor Universitas Darma Persada, forum diskusi ini dihadiri pula oleh Ketua IKAL 49 Boedhi Setiadjid, Mayjen TNI (Purn) Hadi Suprapto dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI dan pengamat kebijakan energi Hanan Nugroho.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Satukan Pemimpin Ketenagalistrikan ASEAN

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Satukan Pemimpin Ketenagalistrikan ASEAN

Jakarta, TAMBANG – Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 akan kembali digelar pada 22–24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Jakarta. Mengusung tema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience”, kedua agenda yang digelar bersamaan ini akan mempertemukan pemerintah, regulator, perusahaan utilitas, investor, pelaku industri, hingga

By Rian Wahyuddin
Energy Week 2026 Soroti Peran Kolaborasi dalam Membangun Ekosistem Industri Masa Depan

Energy Week 2026 Soroti Peran Kolaborasi dalam Membangun Ekosistem Industri Masa Depan

Jakarta, TAMBANG - Kolaborasi lintas sektor dinilai semakin penting dalam membangun ekosistem industri energi masa depan. Perkembangan teknologi, diversifikasi sumber energi, hingga meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur digital membuat batas antarsektor industri semakin terbuka. Kondisi tersebut tercermin dalam penyelenggaraan IEE Series – Energy Week 2026 yang mempertemukan pelaku industri energi, teknologi, manufaktur, dan

By Rian Wahyuddin