Jika Punya Uang, Jonan Persilahkan Investor Untuk Bangun Cilamaya

Jika Punya Uang, Jonan Persilahkan Investor Untuk Bangun Cilamaya
ilustrasi
Jakarta-TAMBANG. Rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya yang sempat jadi kontroversi pada 2014 lalu kembali muncul ke publik. Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan mengatakan kegagalan pembangunan pelabuhan Cilamaya karena dana investasinya dibebankan pada negara melalui APBN. Rencana itu bisa dilanjutkan kembali asalkan investor bersedia menanggung biaya investasinya.   “Kalau mau bangun Cilamaya silahkan pakai dana sendiri. Anda bikin surat (izin) nanti saya tinggal tandatangan. Kalau mau pakai APBN ya bisa panjang urusannya,” canda Jonan saat membuka acara Indonesia Transport Supply Chain & Logistics, Rabu (07/10).   Cilamaya merupakan lokasi yang dipilih untuk proyek perluasan infrastruktur pelabuhan dan logistik. Awalnya lokasi itu dianggap strategis karena berdekatan dengan pelabuhan yang berada di utara Jakarta. Padatnya lalu lintas pengapalan membuat pengembang berinsiatif untuk membangun pelabuhan baru.   Kendala utama yang selalu jadi pertentangan adalah keberadaan sumur minyak milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java. Pertamina keberatan dengan rencana pembangunan pelabuhan karena bisa mengganggu kegiatan operasional pipa minyak dan gas milik Pertamina.   Pelabuhan Cilamaya nantinya direncanakan dapat membantu beban Pelabuhan Tanjung Priok yang diperkirakan bisa stagnan pada 2020. Pada Jabodetabek Metropolitan Priority Area (MPA) Study tahun 2010, disebutkan beberapa keuntungan Pelabuhan Cilamaya. Keberadaannya dianggap bisa menekan biaya logistik dengan mendekatkan pusat produksi. Sebagai pembanding jarak Tanjung Priok-Karawang 140 km, sedangkan Cilamaya-Karawang hanya 70 km.   Jonan mengatakan masalah industri logistik nasional bukanlah pada pembangunan infrastruktur. Baginya yang lebih penting adalah sistem logistik harus dipandang sebagai industri jasa. Untuk membuay sistem logistik yang efisien, peran swasta sangat dibutuhkan. Pemerintah tidak akan mampu karena sudah terlalu banyak mengurusi urusan birokrasi.   “Sistem logistik khususnya laut perkembangannya pelan dan tidak mengikuti jaman. Untuk membuatnya berkembang swasta lah yang harus berperan. Kami sudah coba bekerja dengan sistem setengah bisnis tapi hasilnya tidak maksimal,” ungkap Jonan.

Artikel Terkait

Maknai Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Infrastruktur Energi

Maknai Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Infrastruktur Energi

Jakarta,TAMBANG,- Memaknai Hari Pelanggan Nasional 2026, PT Pertamina Gas (Pertagas), meneguhkan komitmennya untuk terus memperkuat kualitas layanan dan keandalan infrastruktur energi. Hal ini semakin penting di tengah kebutuhan pelanggan yang semakin dinamis. Komitmen dari Subholding Gas Pertamina diantaranta tercermin dari Customer Satisfaction Index (CSI) Pertagas tahun 2026 yang mencapai

By Egenius Soda
Agincourt Resources Kembali Gelar OlympiAR 2026, Kompetisi Geosains Nasional bagi Mahasiswa

Agincourt Resources Kembali Gelar OlympiAR 2026, Kompetisi Geosains Nasional bagi Mahasiswa

Jakarta,TAMBANG,- Pengelola Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources (PTAR) bersama Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) kembali menyelenggarakan Olympiade Agincourt Resources (OlympiAR) 2026. Pembukaan ajang dua tahunan ini dilaksanakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat (4/9). Pembukaan OlympiAR 2026 dihadiri sekitar 500 mahasiswa dari berbagai universitas. Tahun ini

By Egenius Soda