Harga Minyak Rendah, Kesempatan Menambah Cadangan Nasional

Jakarta – TAMBANG. Harga minyak dunia jatuh ke titik terendah dalam 6 tahun terakhir, hingga di bawah angka US$40 per barel. Namun, pemerintah sepertinya kurang peka menyikapi momentum ini. Harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tak segera disesuaikan, dan kesempatan menambah cadangan minyak nasional tak diupayakan.   “Saya kira akan anomali jika harga minyak sudah di level terendah, namum pemerintah tidak juga menurunkan harga jual BBM,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Selasa (25/8), di Jakarta.   Meski tren pelemahan harga minyak dunia semakin tajam, namun pemerintah tak menurunkan harga jual BBM di bulan Agustus 2015 ini. Bahkan, harga solar bersubsidi yang ditetapkan di angka Rp6.900 per liter justru menjadi lebih mahal ketimbang solar industri yang dibandrol Rp6.400 per liter.   Menteri ESDM, Sudirman Said, di awal bulan sudah menegaskan bahwa alasan keengganan pemerintah menurunkan harga BBM adalah karena pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menguat. Selain itu, harga belum bisa diturunkan karena klaim PT Pertamina (Persero) yang menanggung selisih kerugian sekitar Rp12,5 triliun saat harga minyak berada di kisaran US$60 per barel.   Selain mempertanyakan kembali perihal harga jual BBM yang tak kunjung mengalami penyesuaian, Komaidi juga menyatakan pemerintah harusnya melihat peluang dari momentum rendahnya harga minyak. Menurutnya, ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk menambah cadangan minyak nasional.   “Kapan lagi kita bisa beli minyak dengan harga rendah seperti sekarang? Kalau tidak sekarang, tentunya kita akan kehilangan momentum di tengah terus meningkatnya konsumsi BBM,” tuturnya.   Masalah ketersedian fasilitas penampungan stok minyak, menurut Komaidi bisa saja diatasi bila pemerintah tak segan bertindak. Menteri ESDM bersama Menteri BUMN perlu menginstruksikan kepada BUMN yang memiliki fasilitas tersebut untuk menampung stok cadangan minyak nasional.   Sedangkan untuk persoalan ketersediaan anggaran, ia pun berujar bahwa komunikasi politik yang baik menjadi kuncinya. Ia menyakini DPR-RI akan memberikan restu bila pemerintah membahas usulan pengadaan stok cadangan minyak nasional secara transparan.   “Karena anggaran negara itu bukan seperti anggaran rumah tangga. Kalau saya menteri, tentunya saya akan mulai membuka komunikasi dengan DPR untuk usulan ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Pemerintah Tegaskan Ekspor Mineral Ikutan Tetap Berjalan, Kajian Logam Tanah Jarang Disiapkan

Pemerintah Tegaskan Ekspor Mineral Ikutan Tetap Berjalan, Kajian Logam Tanah Jarang Disiapkan

Jakarta, TAMBANG – Pemerintah menegaskan bahwa pelaksanaan ekspor produk pertambangan beserta turunannya tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku dan tidak dimaksudkan untuk menghambat ekspor mineral ikutan, termasuk potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) yang terkandung dalam komoditas tambang utama. Penegasan tersebut menjadi salah satu hasil rapat koordinasi lintas kementerian yang membahas implementasi

By Rian Wahyuddin