Harga Bijih Besi Diproyeksikan Turun Tahun Depan

Harga Bijih Besi Diproyeksikan Turun Tahun Depan
ilustrasi (foto: abc.net.au)

Jakarta – TAMBANG. JP Morgan Chase & Co, perusahaan pembiayaan dari Amerika Serikat, memproyeksikan harga bijih besi akan mencapai kisaran US$67 per metrik ton pada tahun 2015. Harga komoditas bahan baku baja ini akan kembali mengalami penurunan, seiring pertumbuhan pasokan dari produsen terbesar dunia yang melebihi permintaan.

Perkiraan harga US$67 pada tahun 2015 itu lebih rendah 24% dari angka yang dipatok sebelumnya. JP Morgan pun sekaligus memangkas proyeksi harga komoditas bijih besi tahun 2016, turun 32% ke angka US$65.

Berdasarkan data Metal Bulletin Ltd. harga bijih besi berkisar US$98,95 per ton sepanjang tahun 2014. Namun tahun 2017 mendatang, JP Morgan sudah memproyeksikan harga bijih besi akan turun drastis di kisaran US$69 per ton. Angka perkiraan itu pun merupakan revisi yang lebih rendah 16% dari proyeksi semula.

Harga bijih besi pada 5 tahun terakhir memang menurun tajam. Pasalnya, Rio Tinto, BHP Billiton Ltd, dan Vale SA sebagai produsen raksasa kompak meningkatkan produksi. Padahal, pasar sedang lesu terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut Bank of America Merrill Lynch, produsen utama bijih besi memang memilih meningkatkan produksi dan mendorong pelemahan harga. Lebih rendah dari yang diperkirakan JP Morgan, Citigroup Inc. memperkirakan harga bijih besi akan menyentuh level $60 pada tahun 2015.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda