Eksplorasi WKP Waisano Flores Gunakan Dana Hibah Bank Dunia

Jakarta-TAMBANG. Pemerintah terus mengembangkan potensi panas bumi yang bakal menjadi salah satu penopang pembangunan sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Sayangnya selama ini potensi besar yang dimiliki Indonesia belum dikembangkan secara optimal. Bahkan potensi ini belum dipastikan lewat kegiatan eksplorasi. Kegiatan ini masih minim karena biayanya yang tinggi. Diperkirakan biaya eksplorasi yang dibutuhkan untuk pengembangan 1 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) adalah sekitar US$ 20-25 juta. Oleh karenanya setelah mendapat dana hibah sebesar US$ 55 juta dari Bank Dunia, maka Pemerintah berencana untuk mengalokasikannya untuk kegiatan eksplorasi. Dana hibah tersebut saat ini tengah dikelola PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Kementerian Keuangan. Dana hibah yang kini disebut Geothermal Energy Upstream Development Project (GEUDP) ini terdiri dari US$ 49 juta untuk Clean Technology Fund (CTF) dan sisanya digunakan untuk technical assistance. Mekanisme pendanaan untuk program GEUDP sendiri dengan sistem dana bergulir. PT. SMI sebagai wakil Pemerintah akan melakukan pengeboran eksplorasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan menunjuk pihak ketiga. Apabila WKP tersebut telah dilelang, maka pemenang lelang tersebut harus mengganti biaya yang dikeluarkan agar biaya tersebut dapat digunakan untuk membiayai pengeboran di wilayah selanjutnya. Untuk pemanfaatan GEUDP sendiri, tahun ini wilayah yang siap digunakan untuk eksplorasi panas bumi adalah wilayah Waisano, Flores,NTT. Diperkirakan Waisano memiliki potensi kapasitas panas bumi sebesar 60 MW. “Tetapi besarnya kapasitas yang akan dilelangkan sejauh ini masih harus dirundingkan bersama PLN, Dirjen Ketenagalistrikan, dan Dirjen EBTKE agar menyesuaikan dengan jumlah permintaan di wilayah Flores tersendiri” ungkap Husin Setia Nugraha, Kasi Kerja Sama Panas Bumi seerti dikutib dari situs esdm.go.id. Konon, Waisano dipilih berdasarkan hasil survei Badan Geologi (Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi) yang telah dianalisis sebelumnya oleh tenaga ahli world bank. Sementara proses pelaksanaan akan efektif setelah pembentukan Project Management Unit (PMU) oleh PT. SMI dan penetapan PMK tentang pemanfaatan geothermal fund oleh Kementerian keuangan, serta proses MoU antara Kementerian Keuangan serta Kementerian ESDM. Jika ketiga hal tersebut selesai dilaksanakan, maka pengeboran eksplorasi di Wilayah Waisano siap dilaksanakan. “Untuk Waisano itu hanya tinggal menunggu 3 hal tersebut,” ungkap Husin.

Artikel Terkait

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Parama Energi dan SOS Children’s Villages Perkuat Akses Pendidikan Anak di Meulaboh Aceh

Jakarta, TAMBANG - PT Prima Wiguna Parama (Parama Energi) meyakini bahwa investasi terbaik bagi masa depan industri energi dan pertambangan tidak hanya dibangun melalui mesin dan infrastruktur, tetapi juga melalui pendidikan tinggi untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Semangat inilah yang mendorong Parama Energi memperkuat akses pendidikan serta pengembangan kapasitas

By Rian Wahyuddin
Ceria Corp Kibarkan Merah Putih di Puncak Mekongga, Rayakan Kemerdekaan dari Ketinggian 2.620 Mdpl

Ceria Corp Kibarkan Merah Putih di Puncak Mekongga, Rayakan Kemerdekaan dari Ketinggian 2.620 Mdpl

Jakarta, TAMBANG - Setelah menempuh perjalanan panjang melalui medan pegunungan yang menantang, rombongan Ceria Corp akhirnya menjejakkan kaki di Puncak Gunung Mekongga. Tepat pada 17 Agustus 2026, Merah Putih berkibar di ketinggian 2.620 meter di atas permukaan laut (MDPL), menjadi penanda keberhasilan Ekspedisi Gunung Mekongga sekaligus menghadirkan makna tersendiri dalam

By Rian Wahyuddin