Ekonomi Lesu, Hilirisasi Mineral Masih Jadi Andalan

Kebijakan hilirisasi mineral dinilai menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan posisi negara dalam rantai pasok mineral kritis global.

Ekonomi Lesu, Hilirisasi Mineral Masih Jadi Andalan
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto. Istimewa.

Jakarta, TAMBANG – Kebijakan hilirisasi mineral dinilai menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan posisi negara dalam rantai pasok mineral kritis global.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, mengatakan hilirisasi telah memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan ekspor. Menurutnya, dampak kebijakan tersebut tidak hanya terlihat pada pengembangan industri bernilai tambah, tetapi juga pada stabilitas ekonomi makro.

“Tanpa hilirisasi nikel, indikator ekonomi Indonesia bisa jauh lebih lemah. Karena itu hilirisasi memainkan peran penting dalam mendukung stabilitas makroekonomi,” kata Seto di Jakarta, Selasa (2/6).

Ia menjelaskan bahwa hilirisasi berhasil menarik investasi asing langsung, meningkatkan penerimaan ekspor, serta mendatangkan devisa ke dalam negeri. Menurutnya, faktor-faktor tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global dan ekonomi Indonesia yang tengah lesu saat ini.

“Program ini menarik investasi asing langsung, menghasilkan pendapatan ekspor, dan membawa penerimaan devisa ke dalam negeri,” ujarnya.

Seto menambahkan, meski investor pada akhirnya dapat membawa pulang dividennya, nilai ekspor yang dihasilkan diperkirakan tetap lebih besar sehingga memberikan dampak positif bagi cadangan devisa dan perekonomian nasional.

“Sementara investor pada akhirnya dapat merepatriasi dividen, pendapatan ekspor diperkirakan akan melebihi arus keluar tersebut. Karena itu, hilirisasi berkontribusi pada cadangan devisa yang lebih kuat dan ekonomi yang lebih tangguh,” ungkap Seto.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menilai Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di sektor mineral kritis. Menurutnya, perkembangan industri hilir nikel diperkirakan akan terus menarik investasi baru dalam beberapa tahun mendatang seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap material pendukung transisi energi dan teknologi maju.

Arif mengungkapkan bahwa kapasitas terpasang fasilitas high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 600 ribu ton nikel per tahun. Selain itu, terdapat tambahan kapasitas sekitar 400 ribu ton yang masih dalam tahap pengembangan dengan nilai investasi mencapai sekitar US$20 miliar.

“Saat ini kapasitas HPAL terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 600 ribu ton nikel per tahun, dengan tambahan kapasitas sekitar 400 ribu ton yang sedang dikembangkan, yang merepresentasikan investasi sekitar US$20 miliar,” tegas Arif.

Dengan tambahan proyek tersebut, kapasitas produksi nikel Indonesia berpotensi mencapai sekitar satu juta ton per tahun. Menurut Arif, capaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat produksi bahan baku baterai terbesar di dunia.

Ke depan, Arif menilai peluang terbesar Indonesia terletak pada pengembangan industri hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan terkait langsung dengan kebutuhan transisi energi global serta perkembangan teknologi maju.

“Menurut pandangan kami, peluang nilai tambah terbesar di sektor mineral Indonesia berada pada pengembangan industri hilir yang terkait dengan transisi energi dan teknologi maju. Nikel, bauksit, tembaga, timah, unsur tanah jarang, dan mineral radioaktif merupakan sumber daya strategis yang dimiliki Indonesia dan dapat terus dikembangkan,” bebernya.