DSI Petakan Ekspor USD14 Miliar, Potensi Optimalisasi Nilai Capai USD5 Miliar

DSI Petakan Ekspor USD14 Miliar, Potensi Optimalisasi Nilai Capai USD5 Miliar
Ilustrasi

Jakarta, TAMBANG – PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI mengumumkan kesiapan operasional dalam menjalankan mandat pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia. Dalam waktu sedikit lebih dari dua bulan, DSI telah membangun visibilitas analitis terhadap sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari USD14 miliar.

DSI dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis. Perusahaan ini mendapat mandat untuk memperkuat transparansi, tata kelola, serta optimalisasi nilai dalam ekspor komoditas strategis nasional.

Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI menjalankan mandat secara bertahap untuk komoditas batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy. DSI menyatakan proses tersebut tetap dilakukan dengan menjaga kelancaran kegiatan ekspor dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan mandat DSI tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas ekspor, tetapi juga membangun visibilitas yang lebih kuat terhadap ekosistem komoditas strategis Indonesia.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan nilai yang dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional,” ujar Rosan dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (25/8).

Dalam kurun sedikit lebih dari dua bulan, DSI telah memetakan sekitar 6.500 deklarasi ekspor yang merepresentasikan lebih dari US$14 miliar nilai ekspor dan volume lebih dari 90 juta ton komoditas. Aktivitas tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan.

DSI juga mengintegrasikan data ekspor dengan referensi pasar global. Analisis tersebut mencakup sejumlah variabel, antara lain harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, serta pasar tujuan ekspor.

Dengan pendekatan tersebut, DSI dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai arus perdagangan dan nilai komoditas strategis Indonesia sepanjang rantai ekspor. DSI juga mengembangkan integrasi data ekspor nasional dan analitik pada tingkat transaksi dengan memanfaatkan sistem pemerintah yang telah tersedia serta referensi pasar global.

Dari peningkatan visibilitas tersebut, DSI mulai mengidentifikasi ruang untuk meningkatkan nilai yang dapat ditangkap Indonesia dari aktivitas ekspor komoditas strategis. Analisis awal yang dilakukan DSI bersama sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan potensi optimalisasi nilai sekitar USD5 miliar per tahun.

Direktur Utama DSI, Luke Mahony menegaskan bahwa fokus DSI saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk mengimplementasikan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor," ucapnya.

Artikel Terkait

DSI Lengkapi Jajaran Komisaris dan Direksi, Jalankan Mandat Ekspor SDA Strategis

DSI Lengkapi Jajaran Komisaris dan Direksi, Jalankan Mandat Ekspor SDA Strategis

Jakarta, TAMBANG – PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI kini memiliki jajaran Komisaris dan Direksi lengkap untuk mendukung pelaksanaan mandatnya dalam tata kelola ekspor komoditas strategis Indonesia. Dewan Komisaris DSI dipimpin Komisaris Utama Cipung Noer, bersama Tony Wenas, Prof. Mari Elka Pangestu, dan Harold Tjiptadjaja sebagai Komisaris. Jajaran tersebut memiliki

By Rian Wahyuddin
SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045

SDM Unggul Jadi Kunci Hilirisasi dan Masa Depan Industri Minerba Menuju Indonesia Emas 2045

Yogyakarta, TAMBANG – Penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong transformasi industri mineral dan batubara (minerba) menuju Indonesia Emas 2045. Hilirisasi, digitalisasi, transisi energi, dan tuntutan keberlanjutan membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi yang semakin beragam. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Mempersiapkan SDM Unggul, Inovatif,

By Rian Wahyuddin