Batu Bara Tetap Murah Beberapa Tahun ke Depan

Batu Bara Tetap Murah Beberapa Tahun ke Depan

HARGA batu bara diperkirakan akan tetap lemah dalam beberapa tahun ke depan, karena terus mendapat rongrongan dari berbagai sumber.

Rongrongan itu datang dari berlimpahnya pasokan, baik untuk batu bara termal maupun metalurgi, padahal perekonomian Cina tumbuhnya tak sebaik tahun lalu. Cina merupakan negara importir batu bara terbesar di dunia.

Dua laporan dari Clarkson Capital Markets dan BB&T Capital Markets, yang dicuplik Bloomberg kemarin menyatakan, penguatan dolar Amerika dan memurahnya harga solar membuat pemangkasan produksi berjalan lambat. Itulah yang terjadi di dua produsen besar batu bara, Indonesia dan Australia.

Harga batu bara untuk pembangkit listrik di Amerika, Eropa, dan Asia telah menukik tajam selama empat tahun berturut-turut. Sementara batu bara metalurgi, yang banyak dipakai untuk memanaskan baja, jatuh selama tiga tahun berturut-turut karena pasokan melebihi permintaan.

Situasi buruk tetap saja terjadi, meski perusahaan tambang dari Appalachia (Amerika) hingga Australia menutup tambangnya.

Menurut Mark Levin, analis BB&T Capital Markets di Richmond, Virginia, Amerika Serikat, impor dari Cina akan melambat karena pertumbuhan ekonomi lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Perbaikan rel kereta api membuat angkutan batu bara domestik lebih mudah, membuat Cina mengurangi impor.

Batu bara di Bursa Perdagangan New York turun $1,15 atau 2,5% menjadi $45,17 per ton, kemarin. Ini merupakan harga terendah sejak November 2009. Batu bara Eropa pada 16 Januari turun menjadi US$ 58,35 per metrik ton, terendah sejak September 2007.

Di Newcastle, pelabuhan ekspor batu bara terbesar di Australia, harga batu bara jatuh menjadi US$ 60,05 pada 12 Januari 2015, terendah selama hampir enam tahun.

Pasar batu bara untuk pembangkit listrik sedang muram. Tahun lalu Cina memangkas impornya sebanyak 14% dibanding tahun sebelumnya.

Harga minyak bakar yang lebih murah, sebagai akibat anjloknya harga minyak dunia, mengurangi biaya penambangan di Australia dan Indonesia. Murahnya harga bahan bakar merangsang perusahaan tambang di Indonesia dan Australia mendongkrak produksinya.

Apalagi mata uang lokal, seperti rupiah, dolar Australia, dolar Kanada, melemah terhadap dolar Amerika. Melemahnya nilai mata uang lokal membuat pengusaha tambang menggenjot produksinya, untuk menutupi biaya.

Foto: Pemuatan batu bara di Pelabuhan Newcastle, Australia. Sumber: newcastlecoal.com.au

Artikel Terkait

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Multi Power Group Perkuat Komitmen sebagai Mitra Solusi Efisiensi Industri

Jakarta, TAMBANG — PT Multi Power Adi Tama (Multi Power Group) memperkuat komitmennya sebagai mitra solusi efisiensi bagi industri alat berat melalui pendekatan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan operasional pelanggan. Perusahaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membantu pelanggan menentukan solusi yang sesuai dengan karakter pekerjaan, target performa, dan kemampuan anggaran.

By Rian Wahyuddin
Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Sungai Barito Surut, Lebih dari 50% Pasokan Batu Bara Kalteng Terganggu

Jakarta, TAMBANG – Industri pertambangan batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng) tengah menghadapi gangguan akibat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berdampak terhadap pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito, sekaligus mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalteng, Handry Mardam, mengatakan Sungai

By Rian Wahyuddin
Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Pasokan Batu Bara Industri Semen Terkendala, Minerba Cari Sumber Alternatif

Jakarta, TAMBANG – Pasokan batu bara untuk industri semen mengalami kendala akibat gangguan pengiriman di sejumlah wilayah. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi kondisi tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait berkurangnya pasokan

By Rian Wahyuddin