Bakal Bangun HPAL, Eramet Bidik Eksplorasi Tambang Baru

Bakal Bangun HPAL, Eramet Bidik Eksplorasi Tambang Baru

Jakarta, TAMBANG – Perusahaan tambang dan metalurgi asal Perancis, Eramet bakal membangun smelter bahan baku baterai kendaraan listrik di Proyek Sonic Bay yang terletak di Halmahera, Maluku Utara. Proyek yang berkongsi dengan perusahaan kimia asal Jerman BASF itu, rencananya akan mengadopsi teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

CEO PT Eramet Indonesia Mining, Bruno Faour menjelaskan, selain fokus pada proyek HPAL tersebut, pihaknya juga tengah membidik untuk berinvestasi mengeksplorasi lahan pertambangan baru alias green field di Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah pemain utama sektor pertambangan di dunia, dan menjadi salah satu negara terbesar di bidang ekstraktif.

“Ke depan kita akan mengembangkan investasi di Indonesia. Kita bermitra dengan BASF membangun HPAL untuk memasok industri kendaraan listrik. Kita juga melihat kesempatan, kami mencari beberapa target ekplorasi yang potensial,” ungkap Faour di Jakarta, Selasa (6/9).

Sejauh ini, Eramet memiliki portofolio bisnis di Indonesia lewat PT Weda Bay Nickel (WBN), yang bekerja sama dengan PT Antam Tbk dan Tsingshan Group. Eramet memulai eksplorasi di Halmahera dengan Antam sejak tahun 2006. Kemudian pada tahun 2017, melakukan joint venture dengan Tsingshan.

Selama perjalanan WBN, Eramet tercatat telah mengucurkan investasi sebesar USD 300 juta terhitung sejak 2006 hingga 2015. Investasi tersebut untuk eksplorasi, studi pengembangan, dan pembinaan masyarakat di Maluku Utara.

“Eramet berinvestasi di sektor pertambangn sejak tahun 2006, dan mengembangkan pertambangan nikel di Weda Bay. Kita bermitra dengan Tsingshan dan Antam,” jelas Faour.

Adapun Proyek Sonic Bay yang mengadopsi teknologi HPAL itu, ditargetkan akan selesai urusan perizinan dan mencapai final investment decision pada tahun ini. Kemudian, masuk tahap konstruksi pada tahun depan. Proyeksi untuk operasi produksi dicanangkan pada tahun 2025 mendatang. kapasitas produksinya diperkirakan 67 ribu ton nikel dan 7,500 ton kobalt per tahun. Nilai investasinya ditaksir mencapai USD 2,2 miliar sampai 2,6 miliar.

Artikel Terkait

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

PERTAMISI Dorong Penyesuaian Spesifikasi Ekspor, Kepastian HPM, Tata Kelola dan Percepatan Hilirisasi Silika

Jakarta, TAMBANG – Besarnya potensi silika Indonesia belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemanfaatannya. Kepastian harga, klasifikasi komoditas, spesifikasi ekspor, hingga persoalan perizinan masih menjadi tantangan dalam mendorong pengembangan industri silika dari hulu hingga hilir. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dialog Silika Indonesia: Harga Patokan Mineral Silika

By Rian Wahyuddin
PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

PGN Siap Jadi Offtaker dan Transporter Biomethane yang Dikembangkan Toyota dan KIS

Jakarta,TAMBANG,- Pengembangan biomethane yang memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan kini mulai mendekati tahap akhir pengembangan. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) berkolaborasi Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk mengoptimasi pemanfaatan biomethane tersebut dalam rangka memastikan kesediaan pasokan energi domestik masa

By Egenius Soda
PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional

Jakarta,TAMBANG,- Perusahaan tambang batubara plat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mempersiapkan operasional yang andal dalam menjaga keberlanjutan produksi. Perencanaan tersebut mempertimbangkan persetujuan pemerintah, prioritas kebutuhan domestik, serta dinamika pasar ekspor di tengah transisi energi. Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, mengatakan perusahaan tetap berada pada jalur yang tepat

By Egenius Soda