*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 15 September 2010 | 20.54
PLN, Berhentilah Mimpi Beli Batubara Murah!

Aktivitas pertambangan batubara
perusahaan pemegang PKP2B.

Abraham Lagaligo
abraham@tambang.co.id

Jakarta – TAMBANG. Agar dengan mudah memenuhi pasokan batubara untuk PLTU-nya, PT PLN (Persero) diminta untuk tidak lagi berharap dapat membeli komoditi itu dengan harga murah. Pasalnya, pengusaha pertambangan batubara juga dihadapkan pada mahalnya biaya operasi produksi. Selain itu, memaksakan kehendak untuk membeli batubara dengan harga murah, sama saja dengan ikut secara tidak langsung merusak lingkungan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Supriatna Suhala mengatakan, selama ini tambang-tambang besar pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), sebenarnya sudah berkomitmen untuk memasok kebutuhan dalam negeri, utamanya PLN.

Sayangnya, para pemegang PKP2B ini seringkali kalah dalam tender suplai batubara PLN. Perusahaan setrum pelat merah itu, justru banyak memenangkan perusahaan pemegang izin Kuasa Pertambangan (KP), karena berani memasang harga murah dalam tender.

”Kalau PKP2B langsung diadu harga dengan KP saat tender, sudah pasti kalah,” ujar Supriatna. Karena dari sisi pengenaan pajak dan royalti saja, antara PKP2B dan KP sudah ada perbedaan. Kepada pengusaha KP, pemerintah mengenakan corporate tax 25%, dan royalti 5 – 7%.

Sedangkan terhadap pemegang PKP2B, pemerintah menerapkan royalty 13,5%, dengan corporate tax ada yang mencapai 45% (PKP2B Generasi I). Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk rehabilitasi lingkungan, Corporate Social Responsibility (CSR), dan Community Development (Comdev).

Tentang rendahnya harga pembelian batubara yang ditetapkan PLN dalam tender, dibenarkan Kalangan pengusaha PKP2B. Mereka yang pernah ikut tender mengungkapkan, dalam lelang PLN pernah menetapkan HPS (harga patokan sendiri) dibawah USD 35 per ton.

Padahal berdasarkan Indonesian Coal Index (ICI) saja, harga batubara saat itu sudah diatas USD 40 per ton. Hasilnya sudah bisa diduga, PLN pun memenangkan KP-KP dan perusahaan trading batubara, yang berani banting harga saat tender.

Padahal, kata Surpiatna, kalau PLN mau membeli batubara dari PKP2B dengan harga lebih tinggi sedikit, BUMN kelistrikan itu akan mendapatkan batubara dengan jaminan pasokan yang prima. Sementara KP dan trader selama ini terbukti banyak yang tidak bisa memenuhi pasokan ke PLN, sesuai dengan kontrak yang sudah ditandatangani.

Bahkan PLN juga berani memenangkan tender, KP-KP yang belum berproduksi. Dalam kasus terakhir, tujuh KP yang dimenangkan tender oleh PLN gagal memasok, gara-gara tambangnya tak kunjung beroperasi. “Kalau sudah begitu, PLN teriak-teriak lagi mau impor batubara, seolah-olah PKP2B tidak mau mensuplai,” tandasnya kepada Majalah TAMBANG awal September 2010 lalu.

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Herman Afif Kusumo membenarkan, PLN tidak mungkin lagi bermimpi dapat membeli batubara dengan harga murah saat ini. Kalau ingin kualitas pasokan yang andal, PLN harus mau membeli batubara dengan harga sesuai ICI.

Ia juga mengingatkan pesan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Prof Emil Salim. Saat itu, disela-sela rapat bersama Presiden dan jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, di Istana Tampak Siring, Bali, 19 April 2010, Emil Salim sempat berdiskusi dengannya seputar pembangunan ramah lingkungan (Green Economy).

”Kalau PLN bisa beli batubara murah mestinya jangan bangga. Karena dia beli dari penambang yang menekan cost (biaya, red) penambangan. Berarti dia sudah lari dari environment cost (biaya rehabilitasi lingkungan, red). Sehingga secara sadar PLN sudah ikut menghancurkan environment kita,” begitu kutipan pesan Emil Salim seperti dituturkan Herman kepada wartawan, Senin, 30 Agustus 2010.

(Selengkapnya di Majalah TAMBANG Edisi Cetak, September 2010)

icon
Berita Lain
18 September 2014 | 13.47
IPA Sumbang 14 Truk Sampah di Jakarta
18 September 2014 | 12.15
PGN Ingin Serius di Sektor Hulu
18 September 2014 | 05.25
Newmont Siap Berproduksi Kembali